Kisah pengemis di Paris jadi penulis paling laris di Prancis

Setelah hidup jadi gelandangan selama 30 tahun, hidup Jean-Marie Roughol akan berubah drastis. Laki-laki 47 tahun itu menulis sebuah buku memoar tentang hidupnya yang jadi pengemis di Paris. Tak disangka buku yang ditulisnya itu menjadi buku paling laris di seantero Prancis di musim liburan tahun ini.

Buku pria itu kini sudah terjual hampir 50 ribu eksemplar dan membuat namanya melambung, seperti dilansir Odditycentral, Rabu (16/12).

Buku 176 halaman itu berjudul
 Je tape la manche: Une vie dans la rue (Hidup saya sebagai Pengemis: Kehidupan di Jalanan). Di dalam buku itu Roughol menceritakan kehidupan masa kanak-kanaknya hingga dia akhirnya jadi pengemis di jalanan Paris. Dia ingat ketika masih kecil sudah ditinggalkan ibunya dan hanya diasuh oleh ayahnya yang pemabuk. Dia kemudian harus hidup di jalanan pada usia 20-an tahun setelah dipecat sebagai pelayan restoran.

Roughol mulai menulis buku itu dua tahun lalu, sambil duduk di bangku taman. Dia menulis di sebuah buku tulis yang biasa dipakai untuk catatan siswa sekolah. Dia dibantu menulis buku itu oleh karib lamanya, mantan Menteri Dalam Negeri Prancis Jean Louis Debre. Keduanya bertemu bertahun-tahun lalu ketika Roughol dimintai menjaga sepeda putri Debre ketika dia berbelanja di Champs-Elysees. Roughol kemudian mengatakan dalam bukunya, pertemuan dengan Debre itu ibarat memenangkan lotere.

Debre menantang Roughol untuk menulis buku setelah mengalami kejadian tidak mengenakan. Suatu hari Debre mendengar pejalan kaki mengatakan, "Lihat itu, Debre ngobrol dengan pengemis."

Debre terkejut mendengar omongan itu dan dia mengatakan kepada Roughol, bahwa sebagai pengemis dia bisa memperlihatkan orang tadi itu sesungguhnya sudah menghakimi dia dan salah menilai, dengan menulis sebuah buku tentang hidupnya.

Roughol mengatakan kepada wartawan, dia awalnya ragu untuk memulai menulis karena dia merasa sebagai orang bodoh yang jarang masuk sekolah sewaktu kecil. Tapi akhirnya Roughol mau menulis. Dia dan Debre kemudian sering bertemu di sebuah kafe. Di sanalah dia memperlihatkan hasil tulisannya dan Debre kemudian mengetiknya di komputer.

Sejak bukunya diluncurkan, Roughol belakangan sering masuk televisi dan koran. Kini dia sudah bisa membeli ponsel pintar untuk berinteraksi dengan penggemarnya di media sosial. Tapi Roughol hingga kini masih hidup di jalanan.

"Dalam sepuluh bulan saya baru mulai akan mendapat uang royalti. Inginnya sih sekarang," kata dia kepada kantor
 berita AFP. "Kalau sudah punya apartemen sendiri, nanti saya akan membeli komputer supaya bisa terus menulis."